Minggu, 05 Agustus 2012

Kotak ceritaku

Hey, ini cuma iseng-iseng aja ngepostnya. Sebenernya ini tuh tugas bhs. indo saya. Hati-hati! Banyak typo bertebaran.....
1.Tittle: My Story Box

2.author: Nara Kwon3.link fb: Zarah Tin Cahyanigrum4.twitter: @z_zarahtc5.genre: family, happy6.rating: PG 157.Leight8.cast:Cho Kyuhyun as Marcus ChoIm Yoona as Elizabeth ChoKim Yoobin as Ana Cho
And other casts

~story begin~
 Ini hari pertamaku masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas yang terasa begitu panjang bagiku.Selama liburan kerjaanku hanya tidur, nulis, makan, menonton tv. Kegiatan itu aku ulangi tiap harinya. Padahal anak lainnya ada yang jalan-jalan ke taman hiburan dan berlibur dengan keluarga. Ah…. hampir mustahil aku bisa melakukan hal-hal tadi. Sejak papa meninggal saat umurku 10 tahun, aku hampir tdak pernah ke taman hiburan, kecuali saat menemani Ana, adikku ada kegiatan jalan-jalan dari sekolah TKnya 2 tahun lalu.
Aku melihat kakak laki-lakiku, Marcus duduk di meja makan sambil menyeruputi susu putihnya. Dia tampak begitu tampan dengan seragam sekolahnya.Sekarang dia duduk di kelas 12 SMA. Betul, tahun ini dia akan menjalani ujian nasional atau yang biasa disebut UN. Aku segera menghampirinya dan duduk tepat di sampingnya.Saat aku mencoba mengambil roti bakar yang telah mama buat untuk sarapan kami berempat, dia melirikku lalu langsung beranjak dari tempat duduknya.Kemudian menatapku dingin dan segera membuang mukanya.
Mom, aku berangkat ya…. Ana hari ini aku yang antar, sekalian berangkat sekolah…” , Marcus mendekat ke mama dan mencium lembut pipi kanan mama.
“Kalau begitu, sekalian bareng aja sama Eliza… kalian ‘kan satu sekolah….”, kata mama setelah mengecup pipi kanan dan kiri Marcus bergantian.
“Eliza… aku… tidak bisa… Hari ini aku akan ke rumah Thalia…. Kami janji mau berangkat bareng… kalau ada Eliza ‘kan…”
“Nggak apa-apa… Aku berangkat naik bis sekolah aja….”, potongku. Aku menyertakan senyumanku semanis mungkin walau memang terpaksa.
“Tuh kan dia mau naik bis aja… Ana… Ayo kita berangkat…”, ajak Marcus pada Ana sambil menggandeng tangan mungil Ana.
“Ma, aku berangkat ya… Kak Eliza nggak bareng?”, tanya Ana sambil menarik ujung rok sekolahku.
“Aku naik bis aja… Lagian aku udah janji sama Key.”, jawabku asal.Sebenarnya aku bohong. Setiap pagi dia selalu mencari alasan untuk tidak berangkat sekolah dengannya.Dan yang paling sering karena Thalia, seorang gadis cantik tinggi semampai yang kini tengah mengisi hati Marcus selama 2 tahun terakhir ini.Perempuan yang seakan-akan selalu berputar-putar di pikiran Marcus.Walaupun dia tak pernah mengatakan apapun tentang Thalia padaku, namun dari sorot matanya saat berpandangan dengan Thalia membuatku yakin dengan sangkaanku.Tapi aku tahu sebenarnya Marcus tidak suka lama-lama dekat denganku. Ya… Karena kejadian 5 tahun yang lalu itu.
Otakku mulai memutar film yang sebenarnya membuatku sangat sakit. Namun tak dapat ku pungkiri. Semakin aku ingin melenyapkannya dari pikiranku, semakin sulit untukku melupakannya. Saat itu, papa sedang dinas ke luar negri. Hari ini adalah ulang tahunku yang ke 10. Karena keluarga kami jarang berkumpul, jadi hari ulang tahunku yang ke 10 jadi moment berkumpulnya keluarga kami.Saat itu Ana berumur 15 bulan dan Marcus 12 tahun. Ya… aku memang memanggil Marcus tanpa embel-embel ‘kakak’ karena memang sudah terbiasa dan dia bilang kalu aku memanggilnya dengan embel-embel ‘kakak’ atau sepupuku biasanya memanggilnya ‘Mas Marcus’ karena mama memang berasal dari jawa, dia merasa jadi lebih tua.Hahaha… alasan yang memang aneh.Tapi memang kan dia sudah tua. Karena acara itu papa langsung memesan tiket pesawat untuk segera pulang.Namun naas, pesawat yang papa naiki mengalami kerusakkan mesin dan jatuh ke Samudra Pasifik.Semua penumpang meninggal dan hanya beberapa korban yang dapat ditemukan.Namun papaku bukan salah satu dari mereka yang paling tidak jasadnya ditemukan. Sejak saat itu, semua orang jadi membenciku, termasuk Marcus yang sangat kesal karena  hanya untuk datang ke pesta ulang tahunku, kami kehilangan papa. Tampak yang paling kehilangan adalah mama.Namun tak pernah dia tampakkan kemarahan dan kebenciannya padaku. Mama tetaplah mamaku. Tetap sayang padaku tanpa menguranginya, bahkan ku rasa sejak kejadian itu mama jadi lebih dekat denganku. Yang kini kurasa yang menyayangiku di keluarga ku hanya mama dan Ana yang memang tak tahu apa-apa.Untung saja Marcus tidak menceritakannya pada Ana. Mungkin kalu dia tahu, pasti juga akan membenciku.
+++
Kini aku ada di ruang kelas. Hampir saja tadi aku telat gara-gara ketinggalan bis sekolah, jadi tadi aku terpaksa naik angkot; transportasi yang paling aku dan Marcus benci. Ah… Elizabeth…. Kenapa kau mengingatnya yang bahkan tak pernah menganggapmu adik?
Pelajaran pertama adalah pelajarannya Mr. John Steve yaitu bahasa inggris.Asik… ini pelajaran kesukaanku.Tapi tanpa sadar ternyata ada sesosok laki-laki tengah memperhatikan tiap lekuk wajahku.Laki-laki?Ya… namanya Nathan Kim. Dia siswa pindahan dari Korea Selatan beberapa bulan lalu dan sekaligus satu-satunya laki-laki yang dekat dengan seorang Elizabeth Cho. Itulah nama lengkapku.Namun kami tidak punya hubungan spesial.Hanya sahabat, tidak lebih.
“Hei princess, kenapa melamun terus?”, tanya Nathan tanpa mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Emm… Nggak apa-apa kok. Kenapa?”, tanyaku balik.
“Kenapa apanya?”, pandangan sama sekali tidak beralih dariku.
“Aku tau kok kalau aku cantik…. Tapi kan nggak usah sampe terpesona gitu juga kali…”, jawabku disertai tawa yang renyah dari mulutku.
“ELIZAAAA….. Kan aku mau hibur kamu… kenapa kamu malah gitu sih?”, jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya yang kini mengalihkan pandangannya ke sudut ruang kelas yang lain.
“Sepertinya kamu butuh kaca Nathan… Wajah kamu itu…”, kata-kataku terpotong karena sulit menahan tawa.
“Kenapa dengan wajah tampanku?Apa ada yang salah? Atau ada noda apa? Cepat katakan….”
“Wajahmu tetap tampan kok, tapi wajahmu tadi saat melihatku dengan puppy eyes-mu itu loh… Lucu banget… Hahaha…”
“Ah… bisa saja.”
Tak lama Mr. Steve masuk ke kelasku dan pelajaran pun dimulai.
+++
Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Mama belum pulang dari kantor. Padahal biasanya jam segini sudah sampai. Aku yang sudah mandi dengan memakai kaos longgarku dan celana selutut kini ku biarkan bersantai ria di depan televisi sambil memakan cemilan.
CKLEK…
Ku dengar pintu masuk terbuka. Kukira itu mama. Dengan segera ku langkahkan kaki dan memasang wajah semanis mungkin untuk menyambut mama yang pasti lelah pulang dari kerja. Wajah manis yang ku tunjukkan tiba-tiba menghilang karena ternyata bukan mama yang datang.
“Marcus…”, ucapku lirih
“…”, tak sedikitpun sapaanku digubrisnya. Bahkan wajah dingin yang biasa dia tunjukkan semakin terasa dingin  hampir jadi beku.
“Mana Ana?”, tanyanya yang telah duduk di sofa di ruang keluarga sambil memandangi layar televisi.
“Dia lagi belajar bareng sama temennya, Quinn di kamar. Katanya mau ada ulangan besok.”, jawabku gugup.
“Oh..”, jawabnya seadanya. Padahal untuk menjawab pertanyaannya aku harus menahan nafas sehingga terasa sesak pada bagian dada.
Segera ku ambil segelas air bening untuknya yang masih terlihat membeku di depan tv. Saat ku hampiri dia, terlihat rambut dan sebagian tubuhnya basah.Apa di luar sedang hujan? Segitu tak pekanya aku?
“Ini…”, ucapku seraya meletakkan segelas air bening ke meja di hadapannya.
“…”, tak ada satupun kata yang terucap.Dia itu irit bicara sekali kalau berhadapan denganku. Bahkan kadang dia menganggapku tidak ada atau yang biasa Nathan sebut ‘Manusia Transparan’. Walau awalnya sakit menerima bahwa kakakku sendiri membenci adik perempuannya yang umurnya hanya beda 2 tahun yaitu AKU. Namun semua berjalan begitu saja sampai saat ini dan entah sampai kapan.
Tak lama kemudian, ku lihat dia bangkit dari duduknya dan berjalan dengan tidak seimbang.Segera ku langkahkan kaiku mendekat saat tubuhnya tampak tak dapat menahan berat badannnya sendiri.
“Tsk.. Apa-apaan sih?”, katanya sambil mendorong tubuhku kasar menjauh darinya.
“Apa kau sakit? Akan segera ku panggil dokter William kalau perlu.”, jawabku seramah mungkin.Wajahnya pucat pasi.Kenapa dia?
“Tak uss…”, perkataannya terpotong lalu tubuhnya ambruk ke lantai. Dengan cepat ku coba meraih tubuhnya yang lemah.Dan yang ku dapat kepalanya terpangku di pangkuanku sekarang.
“Anaaa..... Tolong aku…. Marcus….”, teriakku yang panik memanggil Ana.
“Kak Marcus kenn..”, kata-katanya terpotong setelah melihat kondisi Marcus.
“Cepat pangil dokter Will, Ann”, titahku pada Ana yang langsung sigap meraih gagang telepon.
+++
“Ada apa dengan Marcus dokter?”, tanya mama lemah sambil menahan tangis yang telah ada di pelupuk matanya.
“Hmmm… Nyonya Cho, bisa kita bicara di luar? Ada yang perlu ku beritahu.”, ajak doker William.
“Baiklah. Ann, Liza, Quinn, tunggu Marcus sebentar ya.”, titah mamaku.
Aunty, sudah waktunya aku pulang.Pasti pak Juki sudah menunggu dari tadi. Aku pulang dulu ya Ann, kak Liza… Bye.. I hope the best for him.”
“Oh ya? Baiklah… Salam untuk mamimu ya Quinn. Hati-hati….”, ucap mama. Sambil berjalan keluar bersama dokter Will dan Quinn.
+++
Tiga bulan kemudian
Hari ini adalah hari perayaan kelulusan Marcus.Aku yang masih duduk di bangku kelas 10 ikut membantu dalam kegiatan tersebut. Ya… jelaslah… aku kan panitianya…. Hehehe… Perayaan tersebut diadakan di hotel bintang lima yang cukup terkenal di kawasan Asia. Kenapa disana? Kan pasti biayanya mahal… Jawabannya adalah karena hotel itu sebenarnya adalah milik keluarga temannya Marcus yaitu Jeremy Kim yang tak lain adalah kakak dari Nathan Kim, sahabat terbaikku. Sekarang aku sedang berkomunikasi dengan temanku menggunakan HT agar acara perayaan ini tidak ada cacatnya sedikitpun. Dari pintu masuk aula besar yang akan menjadi tempat acara perayaan kelulusan, terlihat sesosok anggun yang mengenakan gaun ungu muda yang tidak terlalu ketat selutut senada dengan sepatu hak tinggi berwarna ungu tua yang menambah kesempurnaan parasnya yang memakai make up tipis dan memang dari awal sudah ayu.Semua mata tertuju pada gadis yang membuat iri perempuan seluruh negeri karena kecantikkannya. Ku lihat seorang laki-laki yang berbalut dengan tuxedo hitamnya lengkap dengan dasi kupu-kupu dengan warna yang sama menghampiri gadis itu dan lalu meraih tangan kanan sang putri dan mengecupnya lembut. Tak salah lagi laki-laki beruntung itu kakakku dan sang putri itu kak Thalia. Ya… siapa lagi coba? Dari kejauhan aku melihat kakakku yang selalu bersikap dingin padaku terlihat berbeda 1800 di depan kak Thalia. Aku melihat terukir senyum tulus yang begitu lembut pada wajah kakakku satu-satunya itu.Senyum yang dulu hanya diperuntukkan padaku kini seakan kak Thalia telah merebut semuanya.Marcus dan segala kelebihannya.Seakan aku hanya disisakan kekurangan dan keburukkan yang menjadi sarapan dan makan malamku tiap hari.Aku sangat bahagia melihat senyumnya itu yang membuat hatiku mencair walau aku tahu senyuman ikhlas dari hati itu bukan untukku.
“Hei yeoja aneh kenapa senyum-senyum sendiri? Kau sudah gila?”, tanya seseorang dari belakang ku dan menepuk bahuku cukup keras sehingga menyadarkanku dari khayalan yang tak mungkin tercapai.
Aku tersentak oleh suara yang cukup memekakkan telinga itu.
“Jeremy Oppa? Aish…Kenapa mengagetkan seperti itu?Yeoja aneh yang oppa maksud itu siapa?Aku?”,tanyaku berderet.Oppa adalah panggilan seorang adik perempuan pada kakak laki-laki.
Hey little girl, calm down. Aku kan bukan setan. Lagipula kakakmu itu yang pantas disebut setan karena dia memang setan.Yeoja aneh itu memang kamu.”, jawabnya ringan.
Oppa, aku punya nama. Panggil aku dengan namaku. Namaku Elizabeth. Jangan sebentar-sebentar memanggilku yeoja aneh, lalu little girl.Aku sudah besar asal kau tau.”, jawabku dengan sedikit nada tinggi.
“Hahahaha… dasar princess… Kamu tau nggak? Kamu itu lucu banget…”, jawabnya tertawa sambil mencubit kedua pipiku.
“Sakit….Apa perlu ku eja..E-L-I-Z-A-B-E-T-H. ELIZABETH…. Jangan mengubah namaku sesukamu…”,teriakku tepat di depan wajahnya.
“Liza, kamu cantik banget hari ini. Bener deh..”, kata Jeremy Oppa.
“nggak usah gombal deh… Aku tau kok dan semua yang di sini semua tau kalau kak Thalia yang paling cantik di sini.”, jawabku jutek.
“Tes..tes..123.. Liza..”, HTku berbunyi memanggil namaku.
“123.. Liza di sini..”, jawabku
“123.. Cek semua data pengisi acara. Pastiin kalau semua sudah datang.”
“123..Oke..”, jawabku dan berakhirnya percakapan singkat itu.
“Suara siapa tadi?”, tanya Jeremy Oppa padaku.
“Nathan… Masa’ nggak kenal sama suara adek sendiri? Aku buru-buru nih… dah…”, ucapku seraya meninggalkan Jeremy Oppa terpaku di sana.
“Hari ini kamu benar-benar cantik, Liza…”, kudengar suara lirih mengatakannya. Entah siapa orangnya.
+++
Acara perayaan kelulusan telah dimulai. Semua berjalan sesuai dengan semestinya. Perayaan kelulusan angkatan Marcus berlangsung meriah. Tidak seperti biasanya yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya perayaan hanya dilaksanakan di aula sekolah dan dimeriahkan oleh tampilan seni dari sisawa-siswi di sekolah. Kali ini perayaan dilakukan di hotel berbintang lima dan dimeriahkan artis-arits terkenal. Sangat jauh perbedaannya. Walaupun aku baru siswi kelas 10, tapi aku tahu banyak dari Jeremy Oppa, yang tak lain teman dari Marcus dan kakaknya Nathan, sahabatku.
Setelah 3 jam perayaan kelulusan berlangsung, kini siswa-siswi kelas 12 sudah berhamburan keluar ruangan dan beranjak pulang. Aku pun melihat Marcus dan Kak Thalia berjalan keluar ruangan sambil bergandenga tangan. Namun aku melihat sesuatu yang aneh dari Marcus. Wajahnya tampak pucat pasi. Kenapa dia? Lalu tangannya yang awalnya menggenggam erat tangan kekasihnya itu mulai mengendur, dan akhirnya lepas. Langkahnya terhenti dan tertinggal dari Kak Thalia.
BRUK
Tubuhnya yang lunglai akhirnya terjatuh. Dengan cekatan aku segera meghampiri tubuh Marcus yang telah terjatuh ke lantai. Segera ku pangku kepalanya yang tadi sempat membentur lantai. Tanpa sadar buliran-buliran mutiara bening mulai berjatuhan dari pelupuk mataku.
”Mar…cus…”, ucapku lirih.
Ku lihat Kak Thalia menatap Marcus dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan sendu dan menahan emosi yang bergejolak dapat ku lihat dari mataya. Apa dia tahu kenapa Marcus sebenarnya? Segera ku minta pertolongan adari orang-orang yang telah mengelilingi aku dan Marcus.
“Tolong… panggilkan ambulance segera…”, ucapku.
“Aku sudah telpon…”, jawab seseorang dari balik kerumunan.
+++
Kini aku ada di rumah sakit. Aku tidak sendiri. Ada Nathan dan Jeremy Oppa yang coba menenangkanku. Tak jauh dariku ada Kak Thalia dengan pikiran kalutnya sendiri. Berdiri sambil menghentak –hentakan kaki kanannya pertanda ia sedang cemas. Aku tahu pasti Kak Thalia sam denganku, mengkhawatirkan Marcus. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan yang tadi dimasuki Marcus.
“Siapa keluarga dari Tuan Marcus?”, tanya sang dokter.
“Aku… aku adiknya, dok.”
“Kakakmu harus menjalani operasi pendonoran ginjal secepatnya karena ginjalnya sudah tak dapat berfungsi denga baik. Bahkan memperburuk kesehatannya.”
DEG
Aku tak tahu apa-apa tentang penyakitnya. Jadi selama ini dia begitu menderita. Sebagai adik, kenapa aku tak tahu? Adik macam apa aku. Aku benar-benar adik yang buruk.
“Kalau begitu, coba periksa aku. Siapa tahu aku bisa mendonorkan untuknya.”, ucapku tanpa pikir panjang. Yang terpenting saat ini Marcus segera sehat.
“Apa yang kau pikirkan Eliza? Dia selalu memperlakukanmu bukan sebagai manusia. Kau hanya tranparan baginya.”, cegah Jeremy Oppa yang terkesan membelaku.
“Yang penting sekarang Marcus cepat sehat. Aku tidak peduli dengan sikapnya yang menganggapku manusia tranparan. Yang penting….”, ucapanku terpotong oleh ucapan Kak Thalia.
“Aku juga. Periksa aku juga. Selama ini Marcus selalu mencegahku untuk melakukannya. Kalau cocok, aku bersedia.”, kata Kak Thalia mantap. Tampak tanpa keraguan di tiap kata yang terucap.
“Aku dan kakakku juga.”, kata Nathan yang tak mau kalah.
“Hei… seenaknya saja. Baiklah… demi sahabatku.”, jawab Jeremy Oppa.
+++
Setelah pemeriksaan ternyata hanya ginjalku yang cocok dengan Marcus. Setelah tahu itu, aku izin pulang sebentar pada dokter karena ada yang harus ku selesaikan.
Kini aku berada di rumah. Segera ku langkahkan kakiku menuju kamarku di lantai dua. Dengan terburu-buru ku buka kasar pintu kamarku dan membuka laci di samping tempat tidurku. Segera ku ambil kotak ceritaku. Kotak itu papa berikan padaku setahun sebelum papa meningggal. Kata papa aku harus mempergunakannya untuk kebahagian. Awalnya aku bingung dengan kata-kata papa. Tapi aku mengerti sekarang.kotak itu. berisi kenangan-kenanganku bersama keluargaku. Tak hanya kenangan manis, tapi semua duka yang ku rasakan, dari kematian papa hingga sikap dingin Marcus semenjak papa meninggal yang bahkan menganggapku ‘manusia transparan’. Aku diacuhkan hingga karena aku yang memaksa mendekat dia mendorongku kasar dan menampar pipi kananku. Sakit. Bahkan sangat sakit. Semua ku simpan sendiri tanpa ada yang tahu termasuk mama dan Ana. Cukup aku dan Tuhan yang tahu. Tapi sekarang ku rasa sudah saatnya semua tahu. Segera ku tutup kembali laci itu dan segera keluar kamar mencari Ana.
“Ann… Ana….”, panggilku setengah berteriak.
“Iya kak…”, jawab Ana dari taman belakang.
“Ana, adik cantik kakak. Kakak mau titip ini untuk mama. Kasih ini seminggu lagi. Kamu tau kan isinya. Ya sudah jangan kasih lihat siapa-siapa ya... Ingat itu. Janji?”, ucapku sabil memberikan jari kelingking tanga kananku.
“Janji….”, jawabnya sambil tersenyum dan mengaitkan jari kelingking tangan kanannya yang mungil.
+++
Sekarang aku sudah di rumah sakit. Tepatnya di ruang operasi. Jatungku berdegup 3 kali lebih cepat sekarang. Aku gugup karena ini operasi besar pertama yang aku lakukan. Sebelumnya aku pernah di operasi karena lututku robek saat jatuh dari sepeda di usia 4 tahun. Operasi kali ini kemungkinan berhasilnya fifty-fifty. Jadi kalau gagal aku atau Marcus akan kehilangan nyawa. Aku berharap sekalipun harus ada yang meninggal itu aku, bukan Marcus. Sesaat kemudian suster menyuntikkan sesuatu pada pembuluh darahku pada lengan kiri. Suara dokter yang memintaku untuk tenang terdengar sayup-sayup dan pandanganku kabur. Lalu semuanya menjadi gelap.
+++
Perlahan ke buka mataku. Walau berat aku berusaha keras melakukannya. Terdengar samar-samar ada isakkan kecil di sampingku. Setelah mataku terbuka sempurna, aku lihat sesosok wanita paruh baya tengah terisak sambil menundukkan kepalanya di samping ranjang pasienku. Aku berusaha meraihnya dengan perlahan dan mengelus lembut tangannya yang dingin.
“Mama…”, ucapku lirih.
“Liza… kamu sudah bangun…”, jawab mama seraya menghapus air matanya dan tersenyum padaku.
“Marcus… dia gimana ma? Dia udah sehat kan?”, tanyaku lemah.
“Iya sayang. Dia udah sadar sejam yang lalu. Makasih sayang… makasih kamu baik banget sama Marcus…”, ucap mama sambil menggenggam tanganku lembut.
“Dia kan kakakku ma…”, jawabk lemah.
“Kak Elis…”, suara riang Ana memenuhi ruangan ini.
“Ana…”, ucapku lirih.
Ana segera menghampiriku dengan segenggam bunga mawar putih kesukaanku.
“Ini…”
Ana memberikan bunga tersebut padaku dengan senyu terbaiknya. Manis sekali.
“Ini dari Kak Nathan.”, ucapnya riang.
Nathan? Ah… kenapa tidak kasih aku langsung. Apa dia sudah bosan bertemu denganku?
Little girl…”, terdengar seseorang memanggilku ‘little girl’. Pasti Jeremy Oppa.
Ku sunggingkan senyum simetrisku padanya.
“Mana Nathan?”, tanyaku pada Jeremy Oppa.
“Hmm… Nathan… dia lagi sekolah. Hari ini kan hari senin.”, jawab Jeremmy Oppa.
“Senin? Berarti dia jadi ketua upacara hari ini. Ah… aku kan udah janji pasti ngeliat dia. Aku ingkar janji deh…”, ucapku.
“Udah… nggak apa-apa. Bunganya udah nyampe kan?”, tanyanya.
“Udah kok. Cantik banget…”, jawabku riang.
“Liza… mama panggil dokter dulu ya. Jeremy, tante titip Liza sama Ana.”, seraya mama keluar dari ruang inapku.
”Iya tante. Kayak sama orang lain aja…”, jawab Jeremy Oppa. Kemudian dia mengedipkan sebelah matanya jahil ke arahku. Aku hanya dapat bergidik pelan.
+++
Aku dan Marcus sudah pulang ke rumah. Tapi kami masih butuh istirahat dan pengawasan cukup. Nathan membantu membaringkanku ke tempat tidurku. Rasanya nyaan sekali bisa sampai rumah.
“Kamu kok masih pucet sih? Kan udah di rumah 3 hari? Kak Marcus aja udah bisa lari-lari. Tante Karin nggak ngasih kamu makan apa?”, tanya Nathan berderetan.
“Masa’ sih? Aku ngerasa sehat banget. Jangan bercanda deh. Nggak lucu..”, jawabku.
“Aku ngapain bercanda kayak gitu? Nih kalo nggak percaya liat sendiri…”, ucapnya sambil memberikan hpnya yang ada kamera depannya.
“Iya… memang sih aku agak merasa mual.”, ucapku sambil memandangi wajahku yang pucat dari layar hp Nathan.
HENING
“Kamu nggak sekolah?”, tanyaku memecah keheningan.
“Hari ini hari Minggu. Tepat seminggu operasi kamu sama Kak Marcus.”, jawabnya.
Aku ingat. Seminggu lalu aku minta Ana memberikan kotak itu ke mama. Aduh… jangan sekarang…
Tak lama ku dengar pintu kamarku terbuka. Terlihat mama dengan mata sembabnya dan Marcus degan wajah datarnya. Kenapa mata mama tampak gitu? Apa Ana sudah memberi kotak itu. Aduh gawat….
“Liza…”, ucap mama lirih.
“Mama…”, jawabbku pelan. Aku berusaha menutupi kegugupanku.
“El..li..za.. beth…”, ucap Marcus mengeja namaku.
Apa dia juga sudah tahu? Wah… gawat ini… aku berusaha unutk berdiri dan Nathan membantuku. Ku langkahkan kakiku lemas ke arah mama dan Marcus. Rasa mual dan pusing yang dari tadi aku rasakan semakin menjadi-jadi. Langkahku mulai tak seimbang, lalu terhenti. Tubuhku terhempas ke lantai dan semua menjadi GELAP.
~Selesai~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar